Ahmad Yuzar : Adat Jangan Hilang di Kampar, Sinergi Ulama dan Ninik Mamak di Perkuat

Ahmad Yuzar : Adat Jangan Hilang di Kampar, Sinergi Ulama dan Ninik Mamak di Perkuat

Kampar (Sangkala.id)-Bupati Kampar Ahmad Yuzar menegaskan pentingnya menjaga marwah adat dan nilai-nilai agama sebagai identitas masyarakat Kabupaten Kampar. Ia mengingatkan, kemajuan pembangunan dan derasnya arus globalisasi jangan sampai membuat generasi muda kehilangan akar budaya dan adat istiadat warisan leluhur.

Penegasan tersebut disampaikan Ahmad Yuzar saat menghadiri prosesi penobatan Marwas Dt. Bosau sebagai Ketua Lembaga Adat Kampar (LAK) periode 2026–2031 di Balai Adat Kampar, Bangkinang, Ahad (8/11/2026).

Menurut Ahmad Yuzar, Kampar sebagai Negeri Serambi Mekkah Riau memiliki falsafah Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi semboyan.

"Kampar adalah negeri yang agamis dan beradat. Falsafah ini harus benar-benar kita jaga dan implementasikan. Jangan hanya menjadi ungkapan, tetapi harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan cara kita membangun kehidupan bermasyarakat," tegasnya.

Ia mengatakan, kekuatan Kampar tidak hanya terletak pada sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada nilai agama, adat, budaya, serta persaudaraan yang menjadi identitas masyarakat.

Ahmad Yuzar mengingatkan, generasi muda harus mengenal dan memahami adat istiadat sendiri, menghormati Ninik Mamak, menghargai orang tua, serta menjunjung tinggi tokoh masyarakat.

"Jangan sampai adat hilang di Kampar. Adat tidak boleh usang karena panas dan tidak boleh lapuk karena hujan. Kita memiliki tanggung jawab bersama menjaga marwah adat agar nilai-nilai luhur tetap hidup di tengah masyarakat," ujarnya.

Bupati juga menekankan pentingnya menghidupkan falsafah Tali Bapilin Tigo, Tigo Tungku Sajarangan, yakni sinergi antara pemerintah, alim ulama, dan Ninik Mamak.

Ketiga unsur tersebut memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi. Pemerintah bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, alim ulama membimbing kehidupan keagamaan, sedangkan Ninik Mamak menjaga tatanan adat serta membina anak kemenakan.

Menurutnya, sinergi ketiganya menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan, persatuan, serta ketahanan moral dan budaya masyarakat Kampar menghadapi perubahan zaman.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Yuzar berharap LAK di bawah kepemimpinan Marwas Dt. Bosau mampu menjalankan peran nyata sebagai wadah pemersatu masyarakat, menjaga marwah adat, memperkuat hubungan antarkenegerian, serta menghidupkan kembali fungsi balai adat sebagai pusat musyawarah dan pembinaan masyarakat.

Ia juga mengingatkan pembangunan daerah tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur fisik.

"Pembangunan tidak cukup hanya membangun jalan, jembatan, gedung, dan infrastruktur lainnya. Kita juga harus membangun karakter, memperkuat akhlak, menjaga budaya, serta mempertahankan jati diri masyarakat. Kemajuan daerah harus tetap berpijak pada nilai agama dan adat," ungkapnya.

Ahmad Yuzar mengajak pemerintah daerah, Ninik Mamak, alim ulama, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh anak kemenakan memperkuat persaudaraan. Perbedaan pandangan, katanya, harus diselesaikan melalui musyawarah dengan mengedepankan kearifan dan semangat kekeluargaan.

Penobatan Ketua LAK periode 2026–2031 tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Kampar Misharti, Ketua TP PKK Kabupaten Kampar Tengku Nurheryani Ahmad Yuzar, Anggota DPR RI Syahrul Aidi Maazat, Sekda Kampar Ardi Mardiansyah, anggota DPRD, Penasehat LAK H. Jefry Noer, tokoh masyarakat Riau Saleh Djasit, unsur Forkopimda, kepala OPD, camat, Ninik Mamak, Sighompu, serta anak kemenakan.***(feb)

#Riau

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index