Jangan Resahkan Masyarakat Dengan Isu Limbah Sagu yang Belum Teruji

Jangan Resahkan Masyarakat Dengan  Isu Limbah Sagu  yang Belum Teruji
Kantor Koperasi Pengelola Sagu

Meranti (Sangkala.id)-Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, informasi terkait persoalan lingkungan perlu disampaikan secara arif, berimbang dan berbasis fakta. Isu limbah sagu di Kepulauan Meranti, misalnya, tidak cukup dilihat hanya dari satu sisi. Ada aspek lingkungan yang perlu dijaga, tetapi ada pula kehidupan ekonomi masyarakat yang bergantung pada keberlangsungan industri sagu.

Harga kebutuhan pokok yang terus menjadi beban rumah tangga membuat lapangan pekerjaan memiliki arti penting. Ketika pekerjaan berkurang, kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari ikut tertekan, mulai dari pangan hingga biaya pendidikan anak.

Karena itu, pembahasan mengenai limbah sagu perlu ditempatkan secara proporsional. Persoalannya bukan sekadar bagaimana limbah dikelola, tetapi juga bagaimana kebun sagu, kilang pengolahan dan mata pencaharian masyarakat dapat berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.

Bagi Kepulauan Meranti, sagu bukan sekadar komoditas pertanian. Tanaman rumbia telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama turun-temurun. Identitas Selatpanjang sebagai Kota Sagu tumbuh bersama keberadaan kebun-kebun sagu dan industri pengolahannya yang tersebar hingga pelosok desa.

Sagu memiliki nilai pangan sekaligus ekonomi. Masyarakat sejak lama mengolahnya menjadi berbagai makanan, sementara tual sagu menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Kebun sagu pun berkembang sebagai aset ekonomi keluarga.

Rantai ekonomi tersebut melibatkan banyak pekerja. Ada penebang pohon sagu, perakit dan pengangkut tual menggunakan transportasi air, hingga buruh yang bekerja di kilang pengolahan. Ketika aktivitas industri sagu berjalan, roda ekonomi ikut bergerak dari hulu hingga hilir.

Dalam konteks itulah persoalan repu atau ampas sagu perlu dilihat secara lebih utuh. Bagi masyarakat setempat, material sisa pengolahan sagu ini sudah lama dikenal dan sebagian dimanfaatkan kembali, termasuk sebagai bahan pakan ternak.

Praktik pemanfaatan kembali tersebut menunjukkan adanya potensi ekonomi sirkular dalam industri sagu. Namun, pengelolaan repu tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan ketentuan yang berlaku. Pembuangan ke sungai atau laut tidak semestinya dianggap aman tanpa kajian mengenai jumlah, karakteristik material dan dampaknya terhadap ekosistem.

Keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan lingkungan menjadi penting karena keberlangsungan industri sagu menyangkut kehidupan banyak keluarga di Meranti. Jika aktivitas kilang terganggu atau berhenti, dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik usaha, tetapi juga pekerja, petani sagu, pengangkut dan masyarakat yang berada dalam rantai ekonomi tersebut.

Aan, Pengurus Koperasi Harmonis, saat ditemui media ini, Kamis (1/10/2026), mengatakan kesejahteraan pekerja menjadi perhatian utama para pengusaha yang tergabung dalam koperasi tersebut.

"Para buruh adalah perhatian utama kami, mulai dari kesehatan, makan mereka dan lain-lain. Itu adalah prioritas utama dan selalu kami bicarakan di setiap rapat," ujar Aan.

Perlindungan pekerja juga dilakukan melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan jaminan perlindungan kepada buruh yang bekerja di kilang-kilang sagu.

Persoalan sagu di Meranti pada akhirnya membutuhkan pendekatan yang tidak hitam-putih. Industri tetap membutuhkan kepastian usaha dan masyarakat membutuhkan pekerjaan, sementara lingkungan harus tetap mendapatkan perlindungan.

Karena itu, pengelolaan repu dan aktivitas kilang perlu diarahkan pada praktik yang bertanggung jawab, termasuk pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai ekonomi serta pengendalian limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Sagu adalah bagian dari sejarah sekaligus denyut ekonomi Kepulauan Meranti. Menjaga industri sagu berarti menjaga mata pencaharian masyarakat, tetapi keberlanjutannya juga membutuhkan tata kelola lingkungan yang baik. Di titik inilah kepentingan ekonomi, budaya dan ekologis perlu dipertemukan.***(asril/karim)

#Lingkungan

Index

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index