Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Masih Tinggi di Rokan Hilir, Lingkungan Pendidikan Disorot

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:20:21 WIB

Rohil (Sangkala.id)-Kekerasan seksual masih menjadi kasus paling dominan di Kabupaten Rokan Hilir dari tahun ke tahun. Data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) mencatat tren yang belum menunjukkan penurunan signifikan.

Sepanjang 2023, DP2KBP3A Rohil menangani 66 kasus. Angka ini meningkat menjadi 77 kasus pada 2024, dan pada 2025 kembali tercatat 76 kasus.

Dari keseluruhan laporan tersebut, kekerasan seksual terutama terhadap anak menjadi kasus paling banyak terjadi dibandingkan bullying, penyebaran video porno, KDRT, pengancaman, penganiayaan, narkoba, pencurian, hingga pelarian anak di bawah umur.

Kepala DP2KBP3A Rohil, Cici Sulastri SKM, MSI, menyebut dominasi kasus kekerasan seksual terhadap anak menjadi persoalan serius. Menurutnya, fenomena ini tidak hanya terjadi di Rokan Hilir, tetapi juga menjadi masalah nasional.

"Kasus kekerasan seksual terhadap anak ini memang umum terjadi, bukan hanya di sini saja," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/1).

Ironisnya, banyak kasus tidak berujung ke meja hijau. Faktor utama penyebabnya adalah pelaku kerap berasal dari lingkungan terdekat korban.

Kondisi ini membuat keluarga memilih jalan damai karena menganggap kasus sebagai aib.

Anak korban yang belum sepenuhnya memahami perbedaan antara perilaku baik dan buruk akhirnya kehilangan ruang untuk memperoleh keadilan. Praktik penyelesaian damai ini dinilai berpotensi membuat kekerasan seksual terus berulang.

Pendampingan Hukum dan Psikologis
DP2KBP3A Rohil menyiapkan mekanisme penanganan bagi korban, mulai dari menerima pengaduan masyarakat hingga bekerja sama dengan kepolisian, tenaga medis, dan klinik untuk keperluan visum.
Selain itu, pendampingan psikologis juga diberikan melalui kerja sama dengan tenaga ahli dari Universitas Islam Riau (UIR) guna membantu korban pulih dari trauma yang dialami.

Selain kekerasan seksual, kasus bullying juga masih banyak ditemukan. Cici menekankan pentingnya peran tokoh agama, tokoh adat, serta tenaga pendidik dalam pengawasan anak-anak.

Ia juga menyoroti fakta bahwa pelaku kekerasan seksual tidak jarang berasal dari lingkungan pendidikan.

"Kasus kekerasan seksual bahkan ada yang dilakukan tenaga pendidik. Karena itu pengawasan harus benar-benar diperketat agar anak-anak terlindungi,"  tegasnya. (zal)

Terkini