Siak (Sangkala.id)-Hamparan cabai di Kampung Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, menjadi simbol kebangkitan sektor pertanian desa. Kelompok Tani Asa Baru, yang dibentuk pada 2025 dan dibina Community Development (CD) PT RAPP, sukses membukukan penjualan Rp475 juta dari budidaya cabai di lahan 1,4 hektare sepanjang tahun lalu.
Kelompok ini menghimpun petani dari sejumlah kelompok tani yang sebelumnya tidak aktif. Di bawah kepemimpinan dan pengalaman petani senior Azmi (54), usaha budidaya cabai berkembang pesat berkat tingginya kebutuhan pasar lokal serta dukungan lahan dari pemerintah kampung.
Bagi Azmi, bertani merupakan sumber penghidupan utama keluarga yang telah dijalani sejak kecil. Komoditas cabai dipilih karena permintaan pasar relatif stabil dan memiliki prospek ekonomi menjanjikan.
Pengembangan usaha tersebut mendapat pendampingan berkelanjutan dari CD RAPP melalui pelatihan budidaya, pemupukan, pengendalian hama, hingga perawatan tanaman. Petani juga menerima bantuan bibit cabai, pupuk dasar, dan pupuk kandang guna meningkatkan produktivitas lahan.
Meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan fluktuasi harga komoditas, kelompok tetap mampu berkembang. Keuntungan usaha digunakan untuk membeli lahan seluas 2.500 meter persegi senilai Rp140 juta, satu unit hand tractor, serta memperluas areal tanam menjadi dua hektare dengan total 23 ribu batang cabai.
Head of CD RAPP, Ferdinand Leohansen Simatupang, menilai capaian Kelompok Tani Asa Baru membuktikan masyarakat mampu tumbuh mandiri ketika mendapat pendampingan yang tepat dan memiliki semangat berusaha.
Menurutnya, keberhasilan kelompok tersebut sejalan dengan komitmen APRIL2030 melalui pilar Inclusive Progress yang mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat pemberdayaan ekonomi. RAPP juga akan terus memperkuat kapasitas kelompok tani dan mengembangkan usaha produktif agar tercipta kemandirian ekonomi di tingkat desa.
Dari kebun cabai di Rawa Mekar Jaya, Azmi bersama anggota Kelompok Tani Asa Baru menunjukkan ketekunan, kolaborasi, dan kemauan belajar mampu mengubah pertanian menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan sekaligus membuka harapan baru bagi masyarakat pedesaan.***