Setiap hari ombak menggerus pantai-pantai di Kabupaten Kepulauan Meranti. Sedikit demi sedikit daratan hilang. Pohon tumbang, tebing pantai runtuh, dan rumah-rumah warga yang berdiri di bibir laut semakin dekat dengan ancaman.
Bagi masyarakat pesisir, abrasi bukan sekadar isu lingkungan. Ini persoalan hidup dan mati. Rumah yang dibangun bertahun-tahun bisa lenyap dalam hitungan waktu. Lahan yang menjadi sandaran ekonomi keluarga perlahan terkikis. Nelayan yang menggantungkan hidup dari laut dipaksa menyaksikan kampungnya tergerus setiap hari.
Ironisnya, ancaman ini sudah berlangsung lama. Abrasi di Meranti bukan cerita baru. Namun hingga kini penanganannya masih jauh dari memadai. Keterbatasan anggaran daerah membuat upaya penyelamatan pantai berjalan lambat, sementara laju kerusakan terus bergerak cepat.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia semestinya tidak berhenti pada seremoni dan pidato. Momen ini harus menjadi titik awal tindakan nyata. Penanaman mangrove secara masif perlu segera dilakukan. Mangrove bukan sekadar tanaman pesisir, melainkan benteng alami yang mampu meredam gelombang dan menjaga garis pantai.
Namun menanam mangrove saja tidak cukup. Meranti membutuhkan perhatian yang lebih besar. Pulau-pulau terluar yang menjadi beranda Indonesia ini memerlukan perlindungan infrastruktur berupa tanggul penahan gelombang dan program rehabilitasi pesisir yang berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Meranti tentu tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah pusat harus hadir. Jangan menunggu rumah warga roboh, kampung tenggelam, atau bencana besar terjadi baru kemudian sibuk mencari solusi. Pencegahan selalu lebih murah dibanding penanganan setelah kerusakan terjadi.
Meranti bukan hanya milik masyarakat setempat. Meranti adalah bagian dari Indonesia. Ketika daratan Meranti hilang akibat abrasi, yang hilang bukan sekadar tanah, tetapi juga ruang hidup masyarakat, identitas wilayah, dan kedaulatan negara di kawasan pesisir.
Karena itu, sudah saatnya pemerintah pusat menempatkan penyelamatan pesisir Meranti sebagai prioritas nasional. Dana khusus penanganan abrasi harus segera dialokasikan. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal sebagian pulau Meranti melalui peta dan cerita, karena daratannya telah lebih dulu ditelan laut.***
Penulis : Karim