Irigasi Modern PHR Hidupkan Lahan Tandus Kelompok Wanita Tani Multi Talent

Jumat, 02 Oktober 2026 | 08:48:20 WIB
Seorang anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Multi Talent Desa Perawang Barat, tengah mengalirkan air untuk menyiram tanaman menggunakan sistem irigasi tetes (drip irrigation) yang didukung oleh PT Pertamina Hulu Rokan.

Siak (Sangkala.id)-Musim kemarau tidak lagi menjadi alasan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Multi Talent Desa Perawang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, untuk berhenti bercocok tanam. Teknologi irigasi yang diperkenalkan melalui kolaborasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan Pemerintah Desa membuat lahan yang sebelumnya sulit diairi kini kembali produktif.

KWT Multi Talent beranggotakan 14 perempuan yang mengelola lahan hingga empat hektare. Selama bertahun-tahun, mereka menghadapi persoalan klasik: air tersedia, tetapi sulit dijangkau.

Sumber air berupa parit berada sekitar 75 meter dari kebun dengan posisi sekitar sembilan meter lebih rendah. Kondisi itu membuat anggota kelompok harus mengangkut air menggunakan jerigen 20 liter dari rumah masing-masing dengan sepeda motor.

Satu jerigen membutuhkan waktu hingga 30 menit untuk dibawa hingga digunakan menyiram tanaman. Untuk memenuhi kebutuhan seluruh kebun, penyiraman manual bisa menghabiskan waktu sekitar empat jam setiap hari.

Keterbatasan tersebut membuat KWT Multi Talent memilih tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Komoditas bernilai ekonomi seperti cabai, kacang panjang, timun, dan terong belum menjadi pilihan utama.

Kondisi itu berubah setelah PHR memfasilitasi pemasangan pompa air bertenaga diesel untuk mengangkat air dari parit menuju tandon berkapasitas 1.000 liter. Pengisian tandon yang sebelumnya membutuhkan tenaga dan waktu kini dapat dilakukan sekitar 10 menit.

Teknologi irigasi tetes juga diterapkan. Sistem tersebut menyalurkan air dan nutrisi secara lebih terarah langsung ke area perakaran tanaman. Dukungan dilengkapi bantuan pupuk organik serta pelatihan pengolahan limbah rumah tangga.

"Setelah ada bantuan dari PHR, banyak sekali perubahan nyata yang kami alami. Kami masih bisa menanam saat musim kemarau. Berbeda dari sebelumnya, bila kemarau kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada air," kata Ketua KWT Multi Talent, Ratna Siregar.

Perubahan tidak hanya datang dari teknologi. Para anggota KWT ikut belajar mengoperasikan pompa, mengatur distribusi air melalui jaringan pipa, serta menyusun jadwal piket operasional.

Sebelum instalasi digunakan, Ratna bersama anggota kelompok, dibantu para suami, bergotong royong membuat kolam penampungan air di area kebun. Keterlibatan itu membuat teknologi yang diterapkan tidak berhenti sebagai bantuan infrastruktur, tetapi mulai menjadi bagian dari aktivitas pertanian sehari-hari.

Sistem irigasi tersebut memangkas waktu penyiraman hingga 50 persen. Dari sebelumnya sekitar empat jam per hari, kebutuhan penyiraman kini dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua jam.

"Awalnya kami tidak paham dengan sistem pengairan yang diterapkan, namun ternyata sangat membantu. Tidak perlu repot lagi harus bolak-balik ambil air dari rumah. Ketakutan kekeringan tidak semengerikan dulu karena ada kepastian air," ujar Ratna.

Ketersediaan air hingga 1.000 liter per hari juga membuat sekitar setengah hektare lahan yang sebelumnya menganggur saat kemarau kembali dimanfaatkan. KWT Multi Talent kini mulai memperluas pilihan komoditas dengan membudidayakan cabai, kacang panjang, timun, dan terong.

Program tersebut memperlihatkan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berfokus pada pembangunan sarana fisik. PHR turut mendorong peningkatan keterampilan, transfer teknologi, serta kemampuan kelompok dalam mengelola lahan secara berkelanjutan.

Bagi KWT Multi Talent, kepastian air bukan sekadar memudahkan pekerjaan. Sistem tersebut membuka kembali peluang bagi lahan yang sebelumnya terhenti saat kemarau untuk menghasilkan komoditas yang memiliki nilai ekonomi bagi keluarga dan kelompok tani.***

Terkini