Pekanbaru (Sangkala.id)-PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Bekerja sama dengan UPT Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Dinas Kesehatan Provinsi Riau, PT RAPP menggelar Pelatihan Pelayanan Antenatal Care (ANC), Persalinan, Nifas, dan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) bagi bidan puskesmas di Hotel Grand Tjokro Pekanbaru, Senin (20/7/2026).
Pelatihan angkatan pertama ini diikuti 30 bidan dari Kabupaten Kuantan Singingi dan Kepulauan Meranti, serta perwakilan dinas kesehatan masing-masing kabupaten.
Program berlangsung selama lima hari, 20–24 Juli 2026, menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Community Development PT RAPP, Nindya Putri Pamungkas, menjelaskan pelatihan merupakan bagian dari upaya perusahaan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di wilayah operasional.
"Sebanyak 30 peserta berasal dari dua kabupaten, yaitu Kuantan Singingi dan Kepulauan Meranti. Mereka merupakan bidan puskesmas dan perwakilan dinas kesehatan. Setiap puskesmas mengirimkan dua peserta. Pekan depan pelatihan serupa akan dilaksanakan untuk bidan dari Kabupaten Kampar, Siak, dan Pelalawan dengan jumlah peserta yang sama," ujar Nindya.
Sementara itu, Community Development Head PT RAPP, Ferdinand Leohansen Simatupang, mengatakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Menurutnya, berdasarkan data Provinsi Riau tahun 2024, Angka Kematian Ibu mencapai 90,13 per 100.000 kelahiran, sedangkan Angka Kematian Bayi sebesar 6,89 per 1.000 kelahiran. Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama sehingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas menjadi langkah strategis.
"Melalui program ini kami menargetkan pembinaan secara bertahap di 33 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Kuantan Singingi, Kepulauan Meranti, Kampar, Siak, dan Pelalawan. Kami berharap para bidan dapat menjadi ujung tombak edukasi kesehatan ibu dan anak di masyarakat," katanya.

Kepala UPT Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dr. Siska Hidayani, M.Kes, menjelaskan pelatihan membekali peserta dengan kemampuan pelayanan antenatal, persalinan, masa nifas, menyusui, hingga skrining hipotiroid kongenital pada bayi baru lahir. Seluruh peserta akan menjalani evaluasi melalui pre-test, post-test, penilaian sikap, kehadiran, serta praktik lapangan.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi dan Kepulauan Meranti. Kedua daerah menilai dukungan PT RAPP membantu memperkuat kapasitas sumber daya manusia kesehatan, terutama dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi serta mempercepat pencegahan stunting.
Salah seorang peserta, Yuliyanasri, A.Md.Keb., pengelola Program Kesehatan Keluarga yang mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, mengaku pelatihan berjalan sangat baik dan memberikan manfaat besar bagi peserta.
Ia menyampaikan apresiasi kepada PT RAPP dan UPT Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan dalam pelayanan ibu hamil, persalinan, masa nifas, hingga perawatan bayi baru lahir.
"Materi yang paling penting bagi kami adalah pelayanan ANC sejak masa kehamilan, nifas, sampai bayi baru lahir. Kami juga semakin terampil dalam pengambilan sampel SHK untuk skrining kongenital pada bayi. Kami berharap seluruh bidan dapat mengikuti pelatihan ini hingga selesai dan menerapkannya di daerah masing-masing," ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, berharap seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di wilayah kerja masing-masing sehingga kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di Provinsi Riau terus meningkat. Pelatihan ditutup dengan pemasangan tanda peserta secara simbolis dan sesi dokumentasi bersama.***