Pers Terhimpit, Negara Diminta Hadir-Syahrul Aidi Serap Aspirasi Wartawan Riau

Jumat, 24 April 2026 | 05:22:58 WIB

Pekanbaru (Sangkala.id)-Alarm krisis industri pers kian nyaring terdengar. Di tengah tekanan ekonomi, disrupsi digital, hingga minimnya keberpihakan regulasi, insan media di Riau menyuarakan kegelisahan: pers sedang tidak baik-baik saja.

Suara itu mengemuka dalam pertemuan silaturahmi antara anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, dengan pimpinan asosiasi media dan wartawan di Pekanbaru, Kamis (23/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Wareh Kupi, Jalan Arifin Achmad, ini digelar usai Syahrul Aidi menunaikan tugas internasional pada forum Inter-Parliamentary Union di Istanbul, Turki.

Hadir dalam forum tersebut para tokoh pers daerah, di antaranya Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau Raja Isyam Azwar, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau Dheni Kurnia, Sekretaris Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Riau Budi Satria, Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Riau Zulmiron, serta Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Riau Saidul Tombang.

Dalam diskusi terbuka, para pimpinan media kompak menyuarakan satu hal: negara dinilai belum cukup hadir menyelamatkan industri pers. Regulasi yang belum berpihak, ekosistem bisnis yang tertekan, serta perubahan lanskap digital membuat media kesulitan bertahan, apalagi berkembang.

Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar, secara tegas menggambarkan kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan tidak hanya datang dari internal industri, tetapi juga minimnya dukungan kebijakan yang memperkuat keberlangsungan media.

"Industri media saat ini tidak baik-baik saja," tegasnya, yang diamini pimpinan asosiasi lain.

Menanggapi hal itu, Syahrul Aidi yang juga pernah menjabat Ketua BKSAP DPR RI menegaskan akan membawa persoalan tersebut ke tingkat nasional. Ia menyebut, sebagai mitra kerja Komisi I, Kementerian Komunikasi dan Digital dan Dewan Pers memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem pers.

"Kami minta masukan resmi dari rekan-rekan media. Ini akan kami koordinasikan dengan Komdigi dan Dewan Pers, lalu dibahas di Komisi I DPR RI. Harapannya, kita bisa menemukan solusi konkret," ujarnya.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa di tengah tekanan, media tidak bisa hanya bertahan tetapi harus bertransformasi. Adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pembaca menjadi kunci.

"Media yang profesional dan menghadirkan produk berkualitas akan tetap mendapatkan tempat di hati publik,"  tambahnya.

Selain isu pers, diskusi turut menyinggung dinamika global yang berdampak ke dalam negeri. Syahrul Aidi menyoroti ketegangan geopolitik, khususnya konflik Iran dengan AS-Israel, yang dinilai berpotensi panjang dan memengaruhi kebijakan nasional.

"Kita harus cermat menyikapi. Jangan sampai salah langkah dalam menerjemahkan kondisi global ke kebijakan nasional," ujarnya.

Di penghujung acara, Syahrul Aidi juga menyerahkan penghargaan kepada pemenang lomba menulis opini antarwartawan yang diikuti 43 peserta.

Juara pertama diraih Anthony Harry (Riauinfo.com), disusul Deslina (PekanbaruEkspres.com) di posisi kedua, dan Harry Warisman di peringkat ketiga.***(jin)

Terkini