SKK Migas Sumbagut : Industri Migas Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Perlu Dukungan Media

Selasa, 13 Januari 2026 | 12:55:04 WIB

Pekanbaru (Sangkala.id)-Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), CW Wicaksono, menegaskan kondisi industri minyak dan gas (migas) nasional saat ini sedang tidak berada dalam situasi yang baik.

Hal itu disampaikannya saat menerima audiensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau, Selasa (13/1/2026) di kantornya Graha Merah Putih,  Jl Sudirman Pekanbaru.

Menurut Wicaksono didampingi Yanin KholisonYanin Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi,  tantangan industri migas bukan hanya persoalan teknis produksi, tetapi juga dipengaruhi faktor ekonomi global, sosial politik, hingga minimnya pemahaman publik terhadap karakter sektor migas.

"Harga minyak yang diasumsikan 80 dolar per barel, kenyataannya bergerak di kisaran 50-70 dolar. Sementara biaya operasi migas bisa mencapai 30-40 dolar per barel. Ini membuat ruang gerak industri semakin sempit," ujarnya.

Ia menilai, selama ini sektor migas kerap disalahpahami dan disamakan dengan industri lain seperti batu bara atau kelapa sawit. Padahal, sistem, risiko, hingga regulasi migas jauh lebih kompleks.

"Untuk menjelaskan migas itu tidak cukup satu atau dua jam. Karena kurangnya sosialisasi, sering muncul kesalahpahaman, bahkan anggapan bahwa migas itu industri mewah dan eksklusif," katanya.

Dalam kondisi tersebut, Wicaksono menekankan peran strategis media sebagai jembatan informasi antara industri migas, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Ia menyebut media sebagai stakeholder penting yang tidak terpisahkan dari SKK Migas.

"Kuncinya satu, trust atau kepercayaan. Dan trust itu tidak bisa dibuat-buat atau dipaksakan. Ia lahir dari proses saling mengenal, saling memahami, dan saling menghormati," terangnya.

Wicaksono menegaskan SKK Migas sangat terbuka terhadap seluruh insan pers tanpa membedakan level atau kategori media. Baginya, setiap wartawan memiliki peran yang sama penting selama dilandasi niat baik dan keterbukaan.

"Siapapun yang ingin bertanya, ingin datang, kami terbuka. Gesekan dalam proses komunikasi itu wajar. Justru itu tanda kita semakin dekat dan saling memahami," ujarnya.

Ia juga mengakui keterbatasan SKK Migas dalam melakukan sosialisasi secara luas karena fokus utama berada pada aspek teknis hulu migas. Oleh sebab itu, sinergi dengan media dinilai krusial agar informasi yang utuh dan berimbang bisa sampai ke publik.

“Kalau kami yang bicara, sering kali tidak dipercaya. Tapi kalau media yang menjelaskan, dampaknya akan berbeda,"  katanya.

Kedepan, SKK Migas berharap kolaborasi dengan media dapat membantu menjelaskan kondisi riil migas, termasuk tantangan produksi, kontribusi terhadap negara dan daerah, serta upaya menjaga ketahanan dan swasembada energi nasional.

"Industri migas sedang tidak baik-baik saja. Tapi dengan keterbukaan, saling percaya, dan peran media, kita optimistis bisa melewati masa sulit ini bersama,"  tutup Wicaksono.***(jin)

Terkini