Pekanbaru (Sangkala.id)-Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo terus mengakselerasi distribusi bibit sawit unggul bersertifikat dan pendampingan kelembagaan petani guna menutup kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perusahaan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan, pembenahan sektor hulu menjadi kunci menjaga daya saing industri sawit nasional. Penggunaan benih tidak bersertifikat, menurutnya, masih menjadi penyebab rendahnya produksi tandan buah segar (TBS) di kebun rakyat.
"Kesalahan memilih benih bisa berdampak hingga 25–30 tahun. Karena itu, kami pastikan petani mendapat bibit unggul yang jelas kualitasnya," ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Secara nasional, PalmCo telah menyalurkan sekitar 6 juta bibit bersertifikat untuk peremajaan di 41.000 hektare lahan yang melibatkan lebih dari 20.000 petani.
Dampingi 93 Koperasi Sawit
Selain distribusi bibit, PalmCo juga memperkuat kelembagaan dengan mendampingi 93 koperasi dan kelompok tani, mulai dari pelatihan teknis, pembenahan administrasi, hingga manajemen kebun berbasis praktik presisi.
Hingga 2025, program sertifikasi RSPO dan ISPO telah mencakup 11.909 hektare lahan milik 5.954 kepala keluarga, sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan dan akses pasar global.
Di Riau, tiga koperasi binaan PTPN IV Regional III yang mengelola lebih dari 1.800 hektare kebun sawit telah meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yakni Makarti Jaya, Dayo Mukti, dan Kusuma Bakti Mandiri.
Makarti Jaya menjadi koperasi pertama bersertifikat RSPO di lingkungan Holding PTPN III pada 2025, dengan 265 petani dan 731 hektare lahan. Sementara Dayo Mukti dan Kusuma Bakti Mandiri di Rokan Hulu membawahi 501 petani dengan total 1.077 hektare.
Langkah ini dinilai menjadi strategi penting memperkuat peremajaan sawit rakyat (PSR), meningkatkan produktivitas kebun, sekaligus menjaga posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dengan standar keberlanjutan global.***