Pendapatan Indosat Tembus Rp45,8 Triliun, Laba Bersih Melonjak 37,2 Persen

Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:23:07 WIB

Jakarta (Sangkala.id)-PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH) membukukan kinerja keuangan solid sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan perusahaan telekomunikasi ini mencapai Rp45,8 triliun, tumbuh 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 37,2 persen menjadi Rp4,9 triliun.

Kinerja tersebut memperkuat posisi Indosat di tengah persaingan industri telekomunikasi sekaligus menjadi modal untuk mempercepat transformasi perusahaan menuju Artificial Intelligence Technology Company (AI TechCo), yakni perusahaan teknologi yang menjadikan kecerdasan buatan sebagai salah satu penggerak utama bisnis.

Selain pendapatan dan laba bersih, Indosat mencatatkan EBITDA sebesar Rp21,1 triliun. Pertumbuhan ini ditopang bisnis inti telekomunikasi yang tetap kuat serta strategi pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas layanan dan membuka sumber pendapatan baru.

President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengatakan bisnis inti telekomunikasi menjadi fondasi utama bagi perusahaan dalam menjalankan transformasi dan memperluas investasi teknologi.

Menurutnya, Indosat berfokus meningkatkan pengalaman pelanggan, memperkuat monetisasi layanan, serta mengoptimalkan investasi jaringan dan spektrum. Kekuatan finansial tersebut menjadi penopang untuk mengembangkan bisnis AI yang mulai memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan perusahaan.

“Kami ingin memastikan teknologi semakin mudah diakses, sekaligus mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan maupun perekonomian secara luas,” ujar Vikram.

Di sektor layanan seluler, strategi personalisasi berbasis AI turut mendorong peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) gabungan sebesar 16,5 persen secara tahunan menjadi Rp46.000.

Pada periode yang sama, trafik data meningkat 16 persen menjadi 14.829 petabyte. Pertumbuhan ini didukung pemanfaatan AI untuk memahami perilaku pelanggan, peningkatan kualitas jaringan, optimalisasi spektrum, serta pengembangan kapabilitas jaringan 5G.

Di luar bisnis konektivitas, Indosat mulai memperbesar kontribusi layanan AI dan komputasi awan. Pendapatan solusi Indosat AI Cloud mencapai US$50 juta selama sembilan bulan pertama 2026, melampaui pendapatan sepanjang 2025 yang tercatat US$28 juta.

Perusahaan memperkirakan pendapatan layanan tersebut dapat mencapai US$100 juta hingga akhir 2026. Proyeksi ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap layanan komputasi AI dan cloud computing.

Indosat juga mengembangkan ekosistem AI terintegrasi yang mencakup konektivitas, jaringan fiber optik, pusat data, kapasitas komputasi, model AI, hingga aplikasi untuk kebutuhan perusahaan. Strategi ini diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar domestik sekaligus membuka peluang bisnis di tingkat global.

Untuk memperkuat infrastruktur digital, Indosat mengandalkan jaringan fiber sepanjang 86.000 kilometer melalui RAIA Grid. Infrastruktur tersebut menjadi tulang punggung konektivitas untuk menghubungkan sumber daya komputasi dengan berbagai penerapan teknologi di dunia usaha.

Indosat juga mengembangkan Zankore by Indosat sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur AI generasi berikutnya, dengan ambisi jangka panjang mencapai kapasitas AI hingga satu gigawatt (GW).

Dalam memperluas pemanfaatan teknologi tersebut, Indosat menghadirkan Indosat Intelligence Suite melalui kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi F5. Layanan ini memberikan akses terkelola terhadap model dan infrastruktur AI melalui satu platform terintegrasi.

Solusi tersebut dirancang untuk membantu pelanggan korporasi mengelola penggunaan AI, mengendalikan biaya, dan memperluas adopsi teknologi secara lebih terukur.

Perkembangan ini menandai upaya Indosat mengubah investasi teknologi menjadi sumber pendapatan baru, bukan sekadar menyediakan infrastruktur. Namun, keberlanjutan pertumbuhan bisnis AI tetap bergantung pada kemampuan perusahaan mengonversi permintaan pasar menjadi pendapatan yang konsisten, sekaligus menjaga kualitas layanan telekomunikasi sebagai bisnis utamanya.***

Terkini