Bengkalis (Sangkala.id)-Gemericik air dari kolam ikan patin yang berada di Kelurahan Babussalam, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis membangunkan harapan Kelompok Tunas Mandiri dalam menjaga keberlangsungan usaha tersebut. Budidaya ikan air tawar ini menjadi salah satu peluang usaha yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah tersebut.
Feri Hamdan, Ketua Kelompok Tunas Mandiri, melihat ketersediaan kolam budidaya serta permintaan pasar yang terus meningkat sebagai peluang untuk mengembangkan usaha perikanan air tawar secara lebih produktif. Namun, dalam prakteknya perjalanan budidaya tidak selalu berjalan mulus.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kelompok adalah tingginya serangan penyakit ikan, terutama infeksi jamur dan bakteri, yang menyebabkan angka kematian ikan cukup tinggi selama masa pemeliharaan. Di sisi lain, anggota kelompok juga memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai manajemen kualitas air, biosekuriti kolam, teknik pencegahan penyakit, hingga penerapan budidaya yang baik.
Akibatnya, potensi budidaya yang dimiliki belum mampu menghasilkan produksi secara maksimal maupun memberikan peningkatan pendapatan yang signifikan bagi anggota kelompok. "Selama ini yang paling kami khawatirkan bukan hanya soal panen, tetapi bagaimana menjaga ikan tetap hidup hingga waktunya dipanen. Serangan jamur dan bakteri sering membuat usaha kami tidak sesuai harapan," ungkap Feri.
Di tengah tantangan tersebut, Kelompok Tunas Mandiri tetap memiliki tekad untuk mengembangkan usaha budidaya sebagai sumber penghidupan yang berkelanjutan. Jawaban atas tantangan tersebut hadir melalui Program Circular Fisheries. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memberikan pendampingan komprehensif kepada Kelompok Tunas Mandiri sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui sektor perikanan berkelanjutan.
Selain pemberian sarana produksi berupa 20.000 ekor bibit ikan patin varietas Pustina serta pakan pabrik, setiap anggota kelompok juga mendapatkan peningkatan kapasitas melalui pelatihan teknik budidaya ikan yang baik (Good Aquaculture Practices), meliputi pengelolaan kualitas air, teknik pemberian pakan yang efisien, serta pencegahan dan penanganan penyakit ikan. Tidak hanya pengetahuan teknis, anggota kelompok juga dibekali kemampuan manajemen budidaya untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan hingga masa panen.
Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama kelompok dalam menjalankan budidaya. Seluruh anggota berbagi tugas mulai dari pemeliharaan kolam, pencatatan pertumbuhan ikan, pengelolaan pakan, hingga persiapan pemasaran hasil panen. Pendekatan tersebut membuat pengelolaan budidaya menjadi lebih sistematis sekaligus meningkatkan rasa memiliki terhadap usaha bersama yang sedang mereka bangun.
"Sekarang kami memiliki pengetahuan baru, bibit yang lebih baik, dan keyakinan bahwa kolam yang kami kelola bisa menghasilkan panen yang lebih besar. Harapan kami sederhana, semoga usaha ini terus berkembang dan menjadi sumber penghidupan yang lebih baik bagi keluarga kami," ujar Feri.
Potensi peningkatan ekonomi yang timbul dari Program Circular Fisheries pada kelompok Tunas Mandiri yakni dari 20.000 bibit dapat menghasilkan potensi panen sebesar 22,5 ton atau nilai ekonomi hingga Rp. 495.000.000 per siklus panen. Selain itu terdapat potensi tambahan dari pengelolaan limbah SPPG sebagai pakan ikan sebesar, 75 kg/hari, atau 2.250 ton/bulan.
Melalui Program Circular Fisheries, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus mendorong pengembangan kapasitas masyarakat melalui pendampingan, peningkatan keterampilan, serta penguatan kelembagaan kelompok. Program ini diharapkan mampu menciptakan usaha perikanan yang lebih produktif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat di wilayah operasi perusahaan.***