Penjarahan Kebun Cot Girek Rugikan Negara Rp62,6 Miliar, Ribuan Pekerja Kehilangan Penghasilan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:33:38 WIB

Aceh (Sangkala.id)-Aksi okupasi dan penjarahan di Kebun Cot Girek milik PTPN IV Regional 6 di Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, berdampak serius terhadap kehidupan 2.400 pekerja dan keluarganya. Selama lebih dari enam bulan terakhir, pendapatan pekerja menyusut drastis seiring hilangnya produksi tandan buah segar (TBS) sawit akibat pencurian yang terus berulang.

Konflik bermula sejak September 2025 ketika sebagian areal perkebunan yang masa Hak Guna Usaha (HGU)-nya mendekati berakhir diokupasi sekelompok orang yang mengatasnamakan warga setempat. Luas lahan terdampak mencapai sekitar 3.200 hektare.

Akibat gangguan produksi, ribuan pekerja kehilangan premi panen yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan keluarga. Nilainya berkisar Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan.

"Sekarang premi sudah tidak ada lagi. Anak-anak tetap harus sekolah dan kebutuhan rumah tangga terus berjalan," kata pekerja kebun, Rusli Cut Ali, Kamis, 18 Juni 2026.

Region Head PTPN IV Regional 6, Yudi Cahyadi, mengatakan berbagai upaya pengamanan, pelaporan kepada kepolisian, koordinasi dengan pemerintah, hingga pengurusan perpanjangan HGU telah dilakukan. Namun penjarahan masih berlangsung.

Menurut Yudi, kerugian akibat hilangnya produksi sawit hingga awal Juni 2026 mencapai Rp62,6 miliar. Angka tersebut belum termasuk kerusakan tanaman yang nilainya mendekati Rp1 miliar.

"Kondisi ini bukan hanya merugikan negara, tetapi juga memukul kesejahteraan pekerja dan masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas perkebunan," ujarnya.

PTPN IV berharap pemerintah, aparat penegak hukum, dan seluruh pemangku kepentingan dapat segera menyelesaikan persoalan tersebut agar aktivitas perkebunan kembali normal, aset negara terlindungi, serta pendapatan ribuan pekerja dapat pulih.

Bagi pekerja Kebun Cot Girek, setiap tandan buah sawit yang hilang bukan sekadar kehilangan hasil panen, melainkan berkurangnya sumber nafkah keluarga yang selama puluhan tahun bergantung pada perkebunan negara itu.***

Terkini