Pekanbaru (Sangkala.id)-Suara mesin kecil terdengar dari balik dinding ruangan. Sesekali disusul bunyi gesekan kayu. Diruangan lain, sejumlah siswa perempuan tampak tekun menganyam kain dan belajar menjahit.
Saat itu belum genap pukul 09.00 WIB pagi. Aktivitas sudah berlangsung di Yayasan Sekolah Luar Biasa (SLB) Bumi Manggalo, di Jalan Swadaya, Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau.
Untuk mencapainya, pengunjung harus menapaki jalan beton selebar 2,5 meter dari jalan Lintas Duri-Minas. Sekitar dua kilometer perjalanan, kompleks sekolah dengan tiang pagar bercat merah jambu yang belum berdinding mulai terlihat. Sepuluh bangunan berwarna hijau dan krim berdiri diatas lahan itu dengan 11 ruang belajar.
Para guru berseragam Ungu menyambut kedatangan tamu dari rombongan perusahaan minyak di wilayah tersebut bersama puluhan wartawan. Di antara mereka, anak-anak dengan seragam sekolah tampak sibuk dengan pekerjaan tangan.
Rizki, siswa kelas VI bersama Agus Setiawan, 11 Tahun, siswa kelas II SMP asal Pinggir, sedang memoles gantungan kunci berbahan kayu. Jari-jari kecil mereka bergerak teliti, mengikuti bentuk benda yang sedang dikerjakan.
Rizki mengaku senang bersekolah di SLB Bumi Manggalo. Ia menyukai kegiatan membuat kerajinan karena bisa belajar berkreasi.
"Ia, saya senang sekolah disini. Bisa membuat kerajinan," ujarnya malu-malu sambil menatap sahabatnya Agus.
Hal yang sama juga disampaikan Agus Setiawan. Siswa kelas II SMP itu mengaku senang mengikuti kegiatan keterampilan di sekolah.
Rizki dan Agus Setiawan saat asyik memoles kerajinan kayu
Di tempat ini, kayu bukan sekedar bahan. Ia menjadi media belajar, latihan kemandirian, sekaligus pintu menuju masa depan.
Sekolah Luar Biasa Bumi Manggalo didirikan Muhammad Umar pada tahun 2010. Sekolah itu awalnya menggunakan fasilitas masjid di dekat Jalan Lintas Duri-Minas sembari menyiapkan bangunan sendiri. Saat pertama berdiri, sekolah hanya ada 17 siswa.
Dua tahun kemudian, bangunan sekolah dilokasi sekarang mulai digunakan.
Kini terdapat 53 siswa dengan beragam kebutuhan khusus, mulai tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, tuna grahita hingga tunawisara. Usia mereka berkisar 7 hingga 24 tahun. kegiatan belajar berlangsung dari hari Senin hingga Sabtu, pukul 08.00-12.00 WIB.
Kepala Sekolah Luar Biasa Bumi Manggalo, Aulia Nur Izzah, mengatakan SLB memiliki 9 guru dan seorang petugas taman. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada akademik, tetapi juga keterampilan yang menjadi bekal para siswa menyelesaikan pendidikan.
"Ada keramik atau clay, menjahit, Kriya kayu dan pembuatan alas kaki atau keset. Namun, Kriya kayu dan menjahit menjadi fokus utama," ujar Aulia, Rabu (9/9/2029).
Akbar Dermawan siswa SLB Bumi Manggalo yang berhasil membawa sebagai juara dua lewat Kriya Kayu
Ia menyebut, Kriya kayu bahkan sudah membawa nama sekolah hingga tingkat provinsi. pada tahun 2024, karya siswa SLB Bumi Manggalo meraih juara II tingkat Provinsi Riau dalam Festival Karya Lomba Seni Nasional (FKLSN).
Berbagai prodik telah dihasilkan, mulai tempat telepon selular, tempat tisu, tempat minum hingga gantungan kunci.
* Perjalanan Tidak Selalu Mulus
Sebagian siswa jarang masuk sekolah, faktor ekonomi keluarga dan jarak tempat tinggal menjadi kendala. Kondisi itu tidak membuat para guru menyerah. Dukungan transportasi menjadi salah satu solusi agar siswa dapat mengikuti pembelajaran.
Bagi guru, mengajar anak berkebutuhan khusus bukan pekerjaan yang cukup diselesaikan dengan buku dan teori.
Emdita Dasmi, guru sekaligus pembimbing Akbar Darmawan, 17 tahun, mengaku harus lebih dahulu belajar memahami karakter siswanya.
"Yang kita pikirkan kadang berbanding terbalik dengan apa yang mereka pikirkan," ujarnya.
Para siswa SLB Bumi Manggalo saat mengenyam kain
Akbar merupakan siswa tuna rungu yang telah dibimbing sejak kelas 1. Ia dinilai cepat menangkap materi dan mudah diarahkan. Kemampuannya bahkan mengantarkan sekolah meraih juara II tingkat provinsi.
Sebelum memiliki peralatan memadai, Akbar dan teman-temannya berlatih menggunakan kardus. Kayu relatif mahal, sementara peralatan kerja terbatas.
Kondisi berubah setelah PT Pertamina Hulu rokan (PHR) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) memberikan dukungan vokasi.
Bantuan mulai berkembang pada tahun 2025 dengan mesin jahit, kemudian pada tahun 2026 dilanjutkan peralatan pemotong kayu. PHR juga menyediakan bahan baku kayu dan pelatihan bagi guru serta siswa.
Bagi sekolah, bantuan tersebut bukan sekedar seperangkat alat. Tetapi impian sekolah dan guru dan para siswa.
Kini proses belajar menjadi efektif. Anak-anak tidak lagi membawa peralatan atau bahan sendiri. Karya mereka pun mulai dipamerkan dalam berbagai kegiatan dan memiliki peluang untuk dijual.
Wartoni, guru yang mengajar di SLB Bumi Manggalo sejak tahun 2023, melihat proses tersebut sebagai latihan menemukan kemampuan yang kadang tersembunyi.
Menurut dia, guru tidak bisa melaksanakan satu metode kepada siswa. Anak tuna rungu membutuhkan lebih banyak praktik. Sementara siswa dengan kebutuhan lain memerlukan pendekatan berbeda.
"Mengajar bukan melihat usia, tetapi melihat kemampuan murid," ujarnya.
Konsistensi juga menjadi tantangan. Materi yang hari ini dipahami dapat kembali terlupakan keesokan harinya. Pengulangan materi bisa berlangsung berminggu-minggu dan hasilnya belum tentu sesuai harapan.
Namun justru disitulah kesabaran menjadi bagian dari pendidikan.
Manager Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR),Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pembinaan terhadap SLB Bumi Manggalo diberikan sesuai kebutuhan dan kemampuan sekolah.
Program tersebut tidak dirancang untuk menciptakan ketergantungan. Pembinaan dilakukan secara bertahap hingga sekolah mampu mengembangkan kegiatan secara lebih mandiri dan dukungan dapat dikurangi.
Perusahaan minyak PT PHR saat menyampaikan soal vokasi yang diberikan ke SLB Bumi Manggalo
"Pengembangan produk mereka dimulai dari potensi yang sudah dimiliki," ujar Iwan, Rabu (9/9/2026).
PHR melihat kriya kayu bukan sekedar aktivitas keterampilan. Di dalamnya terdapat peluang ekonomi, proses membangun kepercayaan diri, serta persiapan siswa menghadapi dunia kerja.
Program tersebut menyasar 10 siswa dan melibatkan lima guru pendamping. Para guru dibekali pengetahuan agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti selama program berlangsung, tetapi dapat terus diajarkan kepada siswa berikutnya.
Proses produksi dilakukan secara bertahap, mulai pengamplasan, perakitan, finishing hingga pengemasan. Aspek keselamatan menjadi perhatian dengan menyesuaikan setiap pekerjaan terhadap kemampuan siswa.
Produk yang dihasilkan terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah. Pameran UMKM dan berbagai kegiatan menjadi ruang untuk memperkenalkan siswa sekaligus membuka akses pasar.
Iwan menambahkan, pembinaan PHR tidak hanya berlangsung di SLB Bumi Manggalo. Program serupa juga dijalankan di SLB Yayasan Hati Terpilih dan SLB Aisyiyah dengan fokus keterampilan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing sekolah.
Di SLB Yayasan Hati Terpilih, PHR memfokuskan pembinaan pada keterampilan menjahit dan pelayihan MUA.
"Setiap sekolah memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, program dikembangkan sesuai kemampuan masing-masing agar keterampilan yang diberikan dapat benar-benar dimanfaatkan dan dikembangkan," kata Iwan.
Melalui pembinaan di tiga SLB tersebut, PHR mendorong keterampilan siswa berkembang menjadi bekal untuk meningkatkan kepercayaan diri, produktivitas dan kemandirian.
Bagi PHR, keterampilan bukan sekedar aktivitas di ruang belajar. Di dalamnya terdapat kesempatan bagi siswa untuk berkarya, mengenali potensi diri dan mempersiapkan masa depan.***(jin)