PTPN IV PalmCo Dongkrak Produktivitas Sawit Petani Lampaui Standar Nasional

PTPN IV PalmCo Dongkrak Produktivitas Sawit Petani Lampaui Standar Nasional

Pekanbaru (Sangkala.id)-Program peremajaan sawit rakyat yang diusung PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo secara konsisten dan berkelanjutan berhasil mendongkrak produktivitas sawit ribuan petani mitra hingga melampaui standar nasional dengan rerata produktivitas mencapai 20,18 ton.

Bahkan, untuk sejumlah petani yang tergabung dalam kelembagaan koperasi maupun kelompok tani peserta PSR mampu menembus produktivitas tandan buah segar sawit mereka hingga 23 ton untuk usia tanaman menghasilkan ke-III. Angka tersebut jauh di atas standar nasional PPKS sebesar 19 ton per hektare per tahun.

Hal tersebut terungkap dari pemaparan Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa yang diwakili oleh Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda dalam diskusi panel dipimpin eks Wakil Menteri Pertanian yang kini sebagai Ketua Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia Rusman Heriawan di Pekanbaru, belum lama ini.

Dalam penjelasannya, ia memaparkan bahwa peningkatan produktivitas petani menjadi inisiatif strategis mengingat sekitar 42 persen dari total areal perkebunan sawit nasional saat ini dikelola oleh perkebunan rakyat. Di sisi lain, kebutuhan minyak sawit domestik terus meningkat seiring implementasi mandatori biodiesel B50 yang diproyeksikan menyerap sekitar 15,1 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun mulai semester II/2026.

"Di tengah meningkatnya kebutuhan CPO untuk pangan dan energi, peningkatan produktivitas menjadi satu-satunya jalan yang paling realistis. Kita tidak lagi berbicara tentang perluasan lahan, melainkan bagaimana lahan yang ada dapat menghasilkan lebih banyak dan memberikan kesejahteraan yang lebih besar kepada petani," jelas Arya pada kegiatan yang melibatkan ratusan petani sawit dan dirangkum dalam penluncuran buku "Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi" tersebut.

Menurut Arya, produktivitas perkebunan rakyat selama ini masih tertinggal dibandingkan perkebunan besar akibat keterbatasan akses terhadap bibit unggul, pembiayaan, teknologi budidaya, hingga kapasitas kelembagaan koperasi. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi petani lebih tinggi dan pendapatan yang diterima menjadi lebih rendah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PalmCo mengembangkan model kemitraan berbasis single management, pola pengelolaan kebun secara terpadu antara perusahaan dan petani dengan menerapkan standar operasional perusahaan mulai dari perencanaan kebun, penggunaan bibit unggul, pemupukan, pemeliharaan tanaman, panen, hingga pemasaran hasil produksi.

Melalui skema tersebut, perusahaan juga bertindak sebagai pendamping teknis sekaligus avalis produksi yang memberikan kepastian pengelolaan dan akses pasar bagi petani.

Hingga Mei 2026, total kemitraan sawit rakyat yang dibina PalmCo telah mencapai 52.480 hektare yang terdiri atas program revitalisasi perkebunan dan program PSR yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Dari luasan tersebut, areal tanaman menghasilkan mencapai 19.144 hektare dengan rata-rata produktivitas cukup menjajikan, dengan salah satu yang terbesar yakni KUD Makarti Jaya di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, mencapai 23,94 ton per hektare, melampaui standar produktivitas tanaman menghasilkan tahun ketiga yang ditetapkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebesar 19 ton per hektare.

Keberhasilan tersebut turut berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani. Melalui pola kemitraan yang dijalankan PalmCo, petani mampu memperoleh pendapatan rata-rata Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan, serta turut mencatatkan saldo koperasi secara tahunan mencapai Rp3 miliar hingga Rp5 miliar.

Di bidang peremajaan sawit rakyat, PalmCo bahkan tercatat sebagai perusahaan paling aktif dalam pendampingan PSR secara nasional. Sepanjang periode 2024-2025, perusahaan telah merealisasikan peremajaan seluas 36.681 hektare dan menargetkan tambahan 64.176 hektare pada periode 2026-2029 yang melibatkan sekitar 32.000 kepala keluarga petani.

Arya menilai keberhasilan peningkatan produktivitas petani tersebut akan menjadi faktor penentu dalam menjaga keseimbangan pasokan CPO nasional di tengah meningkatnya kebutuhan domestik. Berdasarkan proyeksi internal industri, konsumsi CPO nasional diperkirakan meningkat dari 27,45 juta ton pada 2026 menjadi 38,83 juta ton pada 2036, terutama didorong oleh pertumbuhan konsumsi biodiesel dan pangan.

Pola kemitraan tersebut pun diamini oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) yang menilai pola tersebut menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit nasional di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk pangan dan energi.

Ketua DPP Aspekpir Setiyono mengatakan kemitraan menciptakan hubungan saling membutuhkan antara perusahaan inti, petani yang tergabung dalam koperasi, dan pemerintah sehingga pembangunan perkebunan sawit dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

"Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan, dan bermitra dengan PTPN IV merupakan pilihan yang tepat," kata Setiyono saat diskusi panel dalam rangkaian peluncuran buku "Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi" di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (1/7).

Setiyono mengatakan, melalui kemitraan, petani dapat menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan bibit unggul, pengelolaan lahan, pemupukan, pengendalian hama, hingga proses panen sesuai standar.

Penerapan praktik budidaya yang baik tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga daya saing industri sawit Indonesia di tengah tuntutan keberlanjutan yang semakin tinggi di pasar global.***