Pekanbaru (Sangkala.id)-Prof Dr Iwantono MPhil, salah satu bakal calon (Balon) kuat Rektor Universitas Riau (Unri) berjanji, jika kelak terpilih jadi Rektor, dia akan menaikkan nilai remunerasi (imbalan kerja) dosen dan pegawai, serta melakukan pemerataan dana penelitian dosen.
“Ini sudah merupakan keniscayaan (keharusan), karena saya melihat tingkat kesejahteraan dosen di kampus ini masih relatif rendah, dan penerima dana riset masih berputar pada orang dan kelompok dosen yang sama,” ujarnya kepada media di Pekanbaru, Jumat (26/6).
Peraturan Rektor Unri No 1/2023, merinci besaran remunerasi (antara lain tunjangan, honorarium, bonus), yang diterima mayoritas dosen Unri perbulan saat ini, berkisar antara Rp2,2juta (CPNS), Rp3,1juta (belum fungsional), Rp4juta (Lektor), Rp 5,2juta (Lektor Kepala), dan Rp6,3juta (Guru Besar).
Besaran remunerasi yang diterima mayoritas pegawai (tenaga kependidikan/tendik) hampir sama, berkisar antara Rp1,5juta – Rp6,9juta perbulan. Hanya dosen dan tendik dengan jabatan struktural, menerima remunerasi jauh lebih besar. Dekan, misalnya, menerima di atas Rp16juta, dan Rektor Rp20juta. Tapi jumlah mereka hanya sedikit.
Menurut Prof Iwantono, berdasarkan anjuran Kemendiktisaintek, Unri boleh memberikan insntif antara 40% - 60% dari PNBP BLU (Penerimaan Negara Bukan Pajak Badan Layanan Umum) Unri.
“Insyaallah, jika diamanahkan jadi Rektor, saya akan berusaha naikkan remunerasi dosen dan tendik, rata-rata Rp1juta perbulan. Ini bukan omon-omon, sebab bisa dicapai dengan menggenjot PNBP BLU,” kata Dekan FMIPA Unri yang meraih gelar magister dan doktor Ilmu Fisika-nya di Inggris ini.
Dia menjelaskan, Unri memiliki aset besar berupa tanah, kebun, gedung, laboratorium, tenaga ahli, pusat studi, serta jejaring alumni yang tersebar luas. Seluruh potensi tersebut perlu dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi pada penguatan institusi.
“Saya juga akan mendorong pembentukan dana abadi yang melibatkan alumni dan mitra strategis,” katanya.
Namun, peningkatan pendapatan harus berjalan seiring dengan penguatan tata kelola. Menurut alumnus FMIPA Unri ini, setiap unit penghasil pendapatan harus memiliki target, indikator kinerja, sistem pelaporan, dan mekanisme pengawasan yang jelas.
“Kita membutuhkan universitas yang mandiri secara finansial, tetapi tetap transparan, akuntabel,” paparnya.
Kemandirian finansial, lanjutnya, akan memberi ruang lebih luas bagi Unri untuk memperbaiki laboratorium, mendukung publikasi, meningkatkan pelayanan mahasiswa, dan memperkuat kesejahteraan dosen serta tenaga kependidikan.
* Pemerataan Dana Riset Dosen
Jika memenangkan kontestasi Pemilihan Rektor kali ini, Prof Iwantono juga sudah bertekad akan membangun ekosistem penelitian yang lebih inklusif, transparan, dan produktif. Yakni dengan memperluas pemerataan kesempatan memperoleh dana penelitian bagi dosen di seluruh fakultas.
Menurutnya, peningkatan kualitas riset tidak cukup hanya dengan memperbesar total anggaran. Universitas juga harus memastikan bahwa lebih banyak dosen memiliki kesempatan untuk terlibat, berkembang, dan memperoleh pengalaman memimpin penelitian.
“Dana riset harus tetap berbasis mutu, tetapi kesempatan untuk tumbuh tidak boleh hanya berputar pada orang dan kelompok yang sama,” katanya.
Untuk itu dia akan menawarkan skema pendanaan berjenjang, mulai dari penelitian pemula, pengembangan, unggulan, kolaborasi lintas fakultas, hingga hilirisasi. Skema tersebut memungkinkan dosen berkembang sesuai tingkat kesiapan dan rekam jejaknya.
Dosen muda dan dosen perlu memperoleh klinik proposal, mentoring, pelatihan metodologi, serta pendampingan publikasi. Sementara itu, kelompok riset yang sudah kuat didorong menjadi mentor dan lokomotif bagi peneliti lain.
“Peneliti senior harus menjadi penggerak, bukan berjalan sendiri. Keberhasilan universitas ditentukan oleh semakin luasnya basis dosen yang aktif meneliti,” tambah mantan Wakil Rektor III Unri ini.
Ditambahkannya, pemerataan penelitian juga harus mencakup seluruh bidang ilmu, termasuk sosial-humaniora, pendidikan, hukum, ekonomi, kesehatan, pertanian, perikanan, sains, dan teknik. Tentu diarahkan pada isu strategis Riau, seperti gambut, sawit berkelanjutan, pangan, energi, perminyakan, kesehatan, kemaritiman, biodiversitas, kebencanaan, dan kebudayaan Melayu.***