Dari Kandang Sapi ke Tanah Suci, Kisah Ratil Bangun Harapan di Koto Benai

Dari Kandang Sapi ke Tanah Suci, Kisah Ratil Bangun Harapan di Koto Benai

Kuansing (Sangkala.id)-Di tepian Sungai Kuantan, Desa Koto Benai, Kecamatan Benai, berdiri sebuah kandang koloni yang menjadi simbol perjuangan dan kebangkitan ekonomi warga desa. Dari tempat sederhana itu, Kelompok Ternak Ingin Maju binaan program Community Development (CD) Riau Andalan Pulp and Paper tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat selama lebih dari dua dekade.

Kelompok ternak tersebut mulai dibentuk pada 1999, bertepatan dengan awal pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi. Saat itu, sebanyak 28 warga bergabung membangun usaha peternakan rakyat dengan pendampingan program CD RAPP.

Sebelum bantuan sapi disalurkan, anggota kelompok terlebih dahulu mendapat pelatihan, pembinaan hingga studi banding. Dua tahun kemudian, 10 kepala keluarga menerima bantuan 30 ekor sapi, masing-masing tiga ekor per keluarga, untuk dikembangkan secara bergulir.

Kini, kelompok tersebut dipimpin Zaharatul Aini (56), perempuan tangguh yang akrab disapa Ratil. Ia bukan orang baru di kelompok itu. Ratil merupakan anggota awal sekaligus saksi hidup perjalanan panjang usaha ternak di Koto Benai.

Bersama suaminya, Ratil memilih pulang kampung pada 1997 setelah sempat tinggal di Pekanbaru. Meski sama-sama sarjana dan memiliki peluang menjadi pegawai pemerintah saat Kuansing dimekarkan, pasangan ini justru memilih membangun usaha ternak sapi di desa.

"Waktu itu ekonomi keluarga masih sulit. Tapi kami yakin kampung bisa memberi masa depan kalau dijalani dengan sungguh-sungguh," ujar Ratil.

Keputusan itu menjadi titik balik hidup mereka. Sejak kecil Ratil memang akrab dengan dunia peternakan. Ia terbiasa mencari rumput, membersihkan kandang hingga menggembalakan sapi. Dari usaha ternak keluarga pula, ia bisa menyelesaikan pendidikan hingga sarjana.

Setiap hari Ratil memulai aktivitas sejak pagi. Setelah menyiapkan kebutuhan keluarga, ia menuju kandang bersama anggota kelompok untuk memberi pakan dan merawat ternak. Di sela aktivitas peternakan, mereka juga mengelola kebun cabai sebagai tambahan penghasilan.

Perubahan besar terjadi pada 2020 saat kelompok membangun kandang koloni melalui dukungan CD RAPP. Aktivitas peternakan yang sebelumnya dilakukan sendiri-sendiri kini terpusat dalam satu kawasan terpadu, mulai dari pemeliharaan sapi, pengolahan kompos hingga perkebunan.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Nilai aset kelompok yang pada 2020 sekitar Rp60 juta kini melonjak menjadi Rp173 juta.

"Setiap tahun terus meningkat seiring bertambahnya ternak dan usaha kelompok,"  kata Ratil.

Usaha ternak itu juga mengubah kehidupan keluarga anggota kelompok. Ratil berhasil menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Dari hasil beternak, ia bersama suami bahkan mampu berangkat umroh ke Tanah Suci.

Namun perjalanan mereka tidak selalu mulus. Tahun 2024 menjadi masa berat ketika sejumlah sapi terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjelang Iduladha. Meski terdampak, kelompok tetap bertahan dan bangkit melalui pendampingan intensif CD RAPP.

Menjelang Iduladha 2026, kandang koloni kembali sibuk. Sapi-sapi kurban mulai disalurkan ke berbagai daerah di Riau. Dari hasil penjualan, keuntungan dibagi 70 persen untuk anggota pemelihara dan 30 persen masuk ke kas kelompok sebagai modal usaha bersama.

Ratil berharap generasi muda tidak malu menjadi peternak. Menurutnya, usaha ternak tetap menjanjikan jika dijalani serius dan konsisten.

"Jangan gengsi beternak. Walau tangan kotor dan panas-panasan, hasilnya nyata kalau ditekuni," ujarnya.

Agribusiness Program Officer Community Development RAPP, drh Jeni Febrianto MMA, menilai Kelompok Ternak Ingin Maju menjadi bukti keberhasilan program pemberdayaan masyarakat berbasis pendampingan berkelanjutan.

"Kelompok ini menunjukkan usaha ternak rakyat bisa tumbuh mandiri, kuat dan berkelanjutan jika dikelola bersama dengan semangat gotong royong,"  katanya.

Dari kandang sederhana di Desa Koto Benai, harapan itu terus tumbuh. Bukan hanya menghasilkan sapi, tetapi juga melahirkan ketahanan ekonomi dan mimpi besar masyarakat desa.***