Ditekan Massa, New Paragon Akhirnya Ditutup Setelah Dapat Pesan Wali Kota Agung Nugroho

Ditekan Massa, New Paragon Akhirnya Ditutup Setelah Dapat Pesan Wali Kota Agung Nugroho

Pekanbaru (Sangkala.id)-Operasional New Paragon KTV Pool and Cafe di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kota Pekanbaru, akhirnya ditutup,  Senin (2/2) malam setelah mendapat tekanan massa dari Forum Masyarakat Riau Anti Maksiat (FORMARAM).

Penutupan dilakukan sekitar pukul 22.01 WIB dengan cara mengunci seluruh pintu dan pagar bangunan.

Aksi penggembokan dilakukan menyusul masuknya pesan WhatsApp dari Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, ke ponsel tokoh masyarakat Azlaini Agus, yang menyatakan, operasional New Paragon ditutup pada malam itu. Pesan tersebut menjadi dasar massa untuk menghentikan aktivitas tempat hiburan malam tersebut.

Sebelum adanya pernyataan Wali Kota, situasi sempat memanas. Massa yang baru selesai melaksanakan salat Isya berjemaah di tengah Jalan Sultan Syarif Kasim, tepat di depan lokasi, berupaya menutup paksa seluruh akses masuk gedung.

Mereka juga meminta aparat keamanan yang berjaga, termasuk kendaraan water cannon dan mobil rantis, untuk keluar dari area New Paragon. Sejumlah kendaraan dinas aparat kemudian dipindahkan.

Massa selanjutnya memasuki pekarangan gedung dan meninjau bagian dalam karena masih terdapat karyawan di dalam. Pintu pertama yang digembok adalah pintu Paragon Cafe, disusul pintu-pintu lainnya. Beberapa karyawan dipaksa keluar gedung sembari menunggu gembok tambahan didatangkan.

Setelah seluruh akses masuk dipastikan terkunci, massa secara bertahap meninggalkan lokasi. Namun mereka melontarkan ancaman akan melakukan aksi serupa terhadap tempat hiburan malam lain di Pekanbaru yang dinilai melanggar norma agama dan aturan yang berlaku.

Koordinator aksi FORMARAM, Sofyan Hadi, menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Pekanbaru dan aparat keamanan karena tuntutan massa akhirnya dipenuhi.

"Kami berterima kasih kepada Wali Kota Pekanbaru dan aparat keamanan. New Paragon akhirnya ditutup karena kami menilai tempat ini sebagai sarang maksiat,"  ujar Sofyan.

Ia menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk penolakan masyarakat, khususnya warga sekitar, terhadap aktivitas yang dianggap bertentangan dengan nilai agama dan adat Melayu.

"Tidak boleh ada maksiat di Riau, terutama di Pekanbaru. Ini bertentangan dengan syariat Islam dan adat Melayu,"  tegasnya.

Aksi massa tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya mantan Gubernur Riau Edy Natar Nasution, Azlaini Agus, Ade Hartati, serta tokoh agama dan masyarakat lainnya.***