Pekanbaru (Sangkala.id)-Sejumlah petani, pengurus koperasi, pemerintah desa dan perwakilan dinas perkebunan dari Kalimantan Barat mempelajari pola kemitraan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang dikembangkan PTPN IV PalmCo di Riau. Pembelajaran ini diharapkan mempercepat pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Selama kunjungan, rombongan melihat langsung kebun petani mitra, berdiskusi dengan koperasi serta mempelajari proses pengelolaan perkebunan hingga pengolahan di pabrik. Peserta juga menggali pengalaman mengenai pendampingan teknis, kelembagaan petani dan penerapan budidaya sawit berkelanjutan.
Verifikator PSR Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Reza Pahlevi, menilai pola PSR yang diterapkan di Riau menunjukkan kolaborasi kuat antara petani, koperasi, pemerintah dan perusahaan.
"Kalau berdasarkan pengamatan saya, di sini seperti utopia PSR-nya. Sangat maju. Masyarakat, pengurus KUD, pemerintah, termasuk perusahaan sangat berdedikasi untuk melaksanakan program ini," kata Reza.
Menurut Reza, salah satu kekuatan pola tersebut terletak pada pendampingan teknis perusahaan yang berlangsung secara berkelanjutan. Pendampingan tidak berhenti saat tanaman baru ditanam, tetapi dilakukan sepanjang siklus perkebunan.
"Dari perusahaan juga sampai mengirim orang untuk membina dari awal sampai nanti tumbang lagi. Itu komitmen yang sangat bagus," ujarnya.
Ketua Koperasi Produsen Jaya Landak Makmur, Supendi, juga melihat manfaat besar dari kunjungan tersebut. Koperasi yang berada di Ngabang, Kabupaten Landak, memiliki sekitar 500 hektare areal dengan kurang lebih 500 anggota dan tengah mempersiapkan kemitraan dengan PTPN.
"Selama studi banding di PTPN IV Regional III di Riau, kami melihat tanaman kelapa sawit yang betul-betul menjanjikan bagi petani. Mulai dari proses PSR, perawatan, pembinaan hingga produksi, petani dibina secara teknis," kata Supendi.
Ia menilai pengalaman berdialog langsung dengan petani mitra menjadi bagian penting dalam studi lapangan. Peserta tidak hanya memperoleh informasi dari sisi perusahaan, tetapi juga mendengar pengalaman petani dalam menjalankan kemitraan.
Supendi menyebut pola tersebut dapat diadaptasi di Kalimantan Barat sesuai karakter masyarakat setempat. "Kalau kami bisa menerapkan 50 sampai 60 persen saja dari apa yang kami lihat di sini, itu sudah luar biasa. Selanjutnya tentu kami berharap bisa berkembang sampai 80 atau 90 persen," ujarnya.
Kepala Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Sugito, mengatakan kunjungan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pengelolaan PSR secara terintegrasi. Peserta melihat langsung kebun petani, proses pengolahan di pabrik serta pola pendampingan bersama PTPN IV Regional III.
"Studi banding ini sangat diperlukan dan sangat bermanfaat bagi kami untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai PSR," katanya.
Sugito berharap petani di Kalimantan Barat dapat membangun pola kemitraan serupa dengan PTPN. Menurutnya, melihat langsung produktivitas kebun dan proses pengelolaannya memberikan motivasi bagi petani untuk meningkatkan kualitas perkebunan.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut. Reza menilai praktik budidaya yang baik, termasuk pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar, menjadi bagian penting dalam membangun perkebunan sawit rakyat yang berkelanjutan.
Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Sanggau telah menyampaikan larangan pembakaran lahan, termasuk pada areal PSR. Hingga kini, menurut Reza, belum ada laporan lahan PSR di wilayahnya terdampak kebakaran hutan dan lahan.
"Kami berharap kegiatan karhutla terus berkurang. Dengan pengelolaan yang semakin baik, kualitas CPO kita juga akan meningkat sehingga memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar dunia," katanya.
Kunjungan petani Kalimantan Barat ke Riau memperlihatkan PSR tidak sekadar mengganti tanaman sawit tua dengan tanaman baru. Keberhasilan program membutuhkan ekosistem yang kuat melalui kelembagaan petani, dukungan pemerintah, pendampingan perusahaan, penerapan budidaya yang baik dan pengelolaan kebun secara berkelanjutan.
Pengalaman PTPN IV Regional III di Riau pun diharapkan menjadi referensi bagi Kalimantan Barat dalam membangun kemitraan perkebunan yang lebih produktif, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.***