Pekanbaru (Sangkala.id)-Puisi tentang sungai, hutan, dan luka lingkungan menggema di Ruang Ismail Suko, Perpustakaan Wilayah Soeman HS Provinsi Riau. Community Pena Terbang (Competer) dan TBM Cahaya Rumah tampil membawakan puisi berantai di hadapan sastrawan Riau dan Singapura, Kamis (17/9/2026).
Penampilan yang dikomandoi penyair muda Muhammad Asqalani Eneste itu menjadi bagian dari Bincang Sastra yang menghadirkan sastrawan Singapura Rohani Din, dikenal sebagai Bunda Anie Din.
Puisi berantai tersebut mendapat perhatian puluhan sastrawan dan pegiat seni yang hadir. Tema alam menjadi benang merah penampilan, sekaligus membawa pesan tentang hubungan manusia dengan sungai dan lingkungan.
Dua karya Asqalani, "Keturunan Sungai" dan "Negeri Kita", menjadi bagian dari puisi yang dibacakan.
"Keturunan Sungai" mengangkat hubungan manusia dengan sungai dan ingatan keluarga. Sungai Batang Sosa, Batang Kumu, Kanteh, Rokan hingga Mosi hadir sebagai simbol kehidupan dan identitas.
Sementara "Negeri Kita" menyuarakan kegelisahan atas kerusakan lingkungan melalui gambaran hutan yang dibakar, sungai yang mengering dan anak-anak yang terdampak pencemaran.
Penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana puisi dapat menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan sosial dan lingkungan dengan bahasa sastra.
Bincang Sastra digelar KSB Rumah Sunting dengan menghadirkan 12 penanggap, yakni Husnu Abadi, Aris Abeba, Fakhrunnas MA Jabbar, Dheni Kurnia, Kazzaini Ks, Mosthamir Thalib, Bambang Kariyawan, Murparsaulian, Hening Wicara, Hang Kafrawi, Furqon Elwe dan Siska Armiza.
Kegiatan dibuka dengan pembacaan syair Wulandari dari KSB Rumah Sunting. Di bagian tengah, TBM Rumah Baca tampil dengan pembacaan puisi berantai. Competer kemudian menutup rangkaian dengan pembacaan puisi bersama.
Founder KSB Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, mengatakan kegiatan tersebut terlaksana berkat dukungan dan fasilitasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau.
Ia juga mengapresiasi kehadiran para sastrawan, seniman, budayawan serta pimpinan komunitas yang turut memperkaya diskusi sastra.
"Kami berterima kasih kepada semua sastrawan Riau yang hadir dan menjadi penanggap, para seniman, budayawan, pimpinan komunitas dan semua pihak yang mendukung kegiatan ini," ujar Kunni.
Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan Dokumentasi Informasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, Zulkarnain ST MT, menilai kegiatan tersebut memperkuat fungsi perpustakaan sebagai ruang aktivitas masyarakat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Rumah Sunting. Kegiatan ini turut memaksimalkan keberadaan perpustakaan sebagai pusat kegiatan masyarakat, termasuk diskusi-diskusi seperti ini," katanya.
Bunda Anie Din mengajak generasi muda kembali mengenal akar sastra Melayu. Dalam paparannya, ia membahas karmina, pantun, syair dan talibun sebagai bagian penting dari tradisi sastra Nusantara.
Menurutnya, penguasaan sastra klasik dapat menjadi bekal untuk mengembangkan karya sastra modern, termasuk puisi, cerpen dan novel.
"Percayalah, sesiapa yang menguasai sastra klasik semacam pantun, karmina, syair dan talibun, ia akan sangat mudah untuk menulis puisi, cerpen ataupun novel. Tulislah, jangan tak tulis," ujar Rohani Din.
Bincang Sastra turut dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan Riau, Balai Bahasa Provinsi Riau dan Balai Pelestarian Kebudayaan Riau.
Forum tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi pertemuan sastrawan lintas negara. Puisi-puisi yang dibacakan membawa satu pesan kuat: alam bukan sekadar latar dalam karya sastra, tetapi bagian dari kehidupan yang terus menghadapi tekanan.***