Rumah 4x5 Meter Abdul Ghani, Potret Warga Rohil Menanti Hunian Layak

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:08:32 WIB

Rohil (Sangkala.id)-Lima orang berbagi ruang dalam rumah berukuran 4x5 meter. Lantainya masih tanah. Kasur tempat tidur sudah rapuh, bahkan berisiko dimasuki ular. Di rumah itulah Abdul Ghani tinggal bersama istri, anak, dan cucunya.

Kondisi rumah Abdul Ghani di Kepenghuluan Serusa, Rokan Hilir, menjadi salah satu potret persoalan hunian tidak layak di daerah berjuluk Negeri Seribu Kubah itu.

Kini rumah tersebut masuk program bedah rumah. Batu pertama pembangunan rehab rumah diletakkan Wakil Bupati Rokan Hilir Jhony Charles, Senin (10/8/2026).

Program itu bagian dari dukungan pemerintah pusat melalui agenda pembangunan 3 juta rumah. Rohil mendapat alokasi bantuan rehabilitasi hunian warga. Jhony menyebut realisasi awal mencapai 67 unit rumah dari jalur aspirasi.

"Alhamdulillah masyarakat kita yang rumahnya tidak layak dihuni mendapatkan bantuan rehab," kata Jhony.

Ia mengapresiasi dukungan pemerintah pusat, DPR RI, khususnya Fadoli dari Fraksi NasDem, serta Kementerian PUPR. Jhony menyebut Rohil sempat diarahkan mendapat 500 unit rumah, namun realisasi awal baru 67 unit.

Bagi Jhony, angka itu belum sebanding dengan luas wilayah dan jumlah penduduk Rohil.

"Kalau dikatakan kurang, yang jelas kurang. Apalagi Rohil ini terbentang luas dan penduduknya sangat banyak," ujarnya.

Bantuan bedah rumah saat ini tersebar di enam kecamatan. Pemerintah daerah menargetkan program serupa dapat menjangkau seluruh 18 kecamatan.

Jhony mengatakan Pemkab Rohil akan terus menjemput peluang bantuan ke pemerintah pusat. Ia juga menegaskan setiap program akan dikawal tanpa melihat latar belakang partai politik.

Semua dukungan penting untuk kesejahteraan masyarakat," katanya.

Kasus Abdul Ghani menjadi alasan penting program bedah rumah. Rumah yang dihuni lima orang itu tidak sekadar sempit. Satu ruangan digunakan untuk tidur, memasak, makan, sekaligus berkumpul.

Lantai tanah memperburuk kondisi hunian. Kasur yang rapuh menambah risiko keselamatan penghuni.

Dian dari Kementerian PUPR mengatakan penilaian rumah calon penerima bantuan mengacu pada tiga aspek: keselamatan, kesehatan, dan kecukupan ruang. Rumah Abdul Ghani memenuhi kriteria untuk mendapat rehabilitasi.

"Kecukupan ruangnya sudah tidak cukup lagi dan sudah layak untuk dibantu," ujar Dian.

Setiap unit bedah rumah mendapat alokasi Rp20 juta. Anggaran itu digunakan memperbaiki bagian-bagian dasar rumah agar memenuhi standar hunian layak.
Di tingkat daerah, jumlah bantuan rumah yang diterima Rohil tahun ini lebih besar dari angka 67 unit. Kabid Perumahan Disperkim Rohil Kudri mencatat total 203 unit bantuan bedah rumah.

Rinciannya, 67 unit berasal dari aspirasi, 71 unit dari Pemkab Rohil, empat unit dari Kemendikbud, dan lima unit dari Dinas Sosial. Data tersebut masih menyisakan sejumlah unit dalam skema bantuan lain.

"Yang sudah masuk dalam pekerjaan itu 67 unit yang berasal dari dana aspirasi,"  kata Kudri.

Bagi keluarga Abdul Ghani, angka-angka program pemerintah itu akhirnya berubah menjadi sesuatu yang konkret: lantai yang tak lagi berupa tanah, ruang yang lebih aman, dan rumah yang tak lagi menjadi tempat tinggal penuh risiko.

Di balik target jutaan rumah secara nasional, ada rumah-rumah kecil seperti milik Abdul Ghani yang menunggu disentuh kebijakan. Program bedah rumah di Rohil kini diuji bukan pada besarnya angka, melainkan seberapa jauh bantuan itu mampu mengubah kualitas hidup warga.***

Terkini