Titiek Soeharto Puji Transformasi Nusakambangan, Dari Penjara Berisiko Tinggi Jadi Sentra Ketahanan Pangan

Senin, 22 Juni 2026 | 20:52:41 WIB

Cilacap (Sangkala.id)-Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengapresiasi transformasi kawasan Pemasyarakatan Nusakambangan yang kini berkembang menjadi sentra ketahanan pangan sekaligus pusat pembinaan kemandirian warga binaan. Apresiasi itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026), bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau berbagai program unggulan yang dijalankan di kawasan lapas, mulai dari Workshop Fly Ash Bottom Ash (FABA), pertanian, peternakan, produksi pupuk organik, Balai Latihan Kerja konveksi, pengolahan sampah, budidaya perikanan, tambak udang vaname hingga budidaya sidat.

Titiek menilai perubahan Nusakambangan menjadi bukti keberhasilan program pembinaan pemasyarakatan. Kawasan yang selama ini identik dengan penjara berisiko tinggi kini mampu menghasilkan berbagai komoditas pangan dan produk bernilai ekonomi.

Menurutnya, konsep pembinaan berbasis produktivitas tersebut layak menjadi model nasional dan direplikasi di berbagai lembaga pemasyarakatan lainnya.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan berbagai masukan dari Komisi IV DPR RI akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat program yang telah berjalan. Jajaran pemasyarakatan juga terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur di lapas dan rutan sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.

Saat ini, kawasan Nusakambangan telah memanfaatkan sekitar 135 hektare lahan produktif. Ratusan warga binaan dilibatkan dalam berbagai sektor usaha, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, konveksi, pengolahan sampah hingga budidaya udang dan sidat.

Program tersebut tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga menjadi sarana pembekalan keterampilan bagi warga binaan agar siap kembali ke masyarakat dengan kemampuan kerja dan kemandirian ekonomi.

Transformasi Nusakambangan menjadi kawasan produktif memperlihatkan perubahan paradigma pemasyarakatan, dari sekadar tempat menjalani hukuman menjadi pusat pembinaan yang menghasilkan manfaat nyata bagi negara dan masyarakat.***

Terkini