Kampar (Sangkala.id)-Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, kini hadir menjadi destinasi wisata alam pilihan berbasis konservasi unggulan di Provinsi Riau. Melalui Program Desa Wisata, kawasan yang sarat nilai sejarah ini berhasil berbenah.
Sentuhan fasilitas baru dan penguatan kapasitas pengelola tidak hanya mendongkrak kenyamanan wisatawan, tetapi juga melipatgandakan roda perekonomian lokal. Hutan Adat Imbo Putui tampil lebih memukau berkat kolaborasi erat antara masyarakat, Pemerintah Desa, dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan.
Hutan Adat Imbo Putui merupakan hutan adat pertama di Provinsi Riau yang memperoleh pengakuan resmi dari negara melaui SK Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019 lalu. Hutan adat yang ditetapkan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 2020 ini menyimpan potensi alam yang luar biasa: Hutan yang asri, aliran sungai yang alami, serta area camping menjadi daya tarik utama.
Namun sebelumnya, minimnya fasilitas pendukung seperti sarana MCK dan keterbatasan kapasitas kelola membuat kunjungan wisatawan kurang optimal dan hanya ramai pada akhir pekan. Melihat tantangan tersebut, PHR hadir sebagai “Sahabat Pendukung” melalui rangkaian intervensi program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal di daerah tersebut.
Upaya yang dilakukan meliputi pelatihan pengelolaan desa wisata, penguatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), promosi berbasis media sosial, hingga pembangunan infrastruktur fisik secara masif.
Dukungan fasilitas dari PHR kini mengubah wajah Imbo Putui. Fasilitas MCK yang semula hanya tersedia dua unit kini bertambah menjadi enam unit. Selain itu, PHR juga mendukung perluasan area camp, revitalisasi musala, penambahan signage, serta penyediaan tempat sampah untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas pengalaman wisata bagi para pengunjung.
Perubahan ini disambut dengan kerja keras oleh masyarakat setempat. Said Afrizal (27), atau yang akrab disapa Eja, selaku Ketua Pokdarwis Imbo Putui, memimpin langsung gerakan perubahan kebiasaan di lapangan. Bersama anggota kelompoknya, Eja aktif menggerakkan gotong royong, menjaga kebersihan, mengatur area camping, hingga memastikan seluruh wisatawan menghormati aturan adat setempat, termasuk pemisahan area pemandian laki-laki dan perempuan di sungai.
“Pesan kami untuk pengunjung yang datang ke Hutan Adat Imbo Putui adalah untuk selalu menjaga kebersihan dan fasilitas yang sudah ada agar liburan tetap nyaman. Diharapkan semua pengunjung membuang sampah ke tempat yang disediakan, pohon jangan ditebang sembarangan, dan aturan adat setempat harus kita terapkan demi kenyamanan dan keamanan bersama,” ujar Eja.

Pelatihan Ekonomi Kreatif Pembuatan Tudung Saji bagi kelompok sadar wisata, Hutan Adat Imbo Putui, Desa Petapahan, Kampar, Riau.
Kerja keras berbuah manis, pada periode libur panjang satu bulan terakhir, lonjakan kunjungan wisatawan diperkirakan mencapai hampir 400 orang yang berasal dari kalangan komunitas, keluarga, hingga mahasiswa. Wisatawan kini bisa menikmati aktivitas mandi di sungai, camping, dan hiking menyusuri hutan dengan jauh lebih nyaman.
Peningkatan kunjungan ini secara langsung berdampak signifikan pada kesejahteraan ekonomi pengelola. Omzet mingguan kelompok yang sebelumnya hanya berkisaran di angka Rp300 ribu, kini melonjak hingga mencapai sekitar Rp3 juta per minggu saat musim liburan, sebuah lompatan pendapatan hingga 10 kali lipat.
Dukungan terhadap Hutan Adat Imbo Putui merupakan wujud komitmen PHR dalam menjaga keselarasan antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki Imbo Putui, dimana nilai-nilai adat dan kelestarian hutan menjadi nilai yang patut dibanggakan.
“Melalui kolaborasi ini, PHR ingin memastikan bahwa kekayaan alam dan budaya tidak hanya lestari, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa. Kami berharap transformasi ini menjadikan Imbo Putui sebagai model desa wisata berkelanjutan di Riau," Kata Manager CID PHR Iwan Ridwan Faizal.
Meski sektor pariwisata tengah berkembang, komitmen masyarakat Petapahan dan Pokdarwis untuk menjaga kelestarian lingkungan dan aturan adat tidak pernah luntur. Keberhasilan Hutan Adat Imbo Putui menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi multi pihak dapat mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal tanpa harus mengorbankan kelestarian alam hayati yang berkelanjutan.***